Postingan

Berjalan ke Arah Cinta

Aku berjalan menuju arah yang tak menentu. Melipat jarak lalu memendekkan kenangan dimana ingatan-ingatan luka berbaris di sepanjang kemenangan yang tak kunjung abadi di sebaris kekalahan tentang kapan menjadi tua. Lalu duka mengembalikan masing-masing muasal. Berbicara agar dia saling mengutuhkan ketika kaki-kaki telanjang itu kembali menjejak sebagian perayaan dimana alamat-alamat sendiri ketika akhirnya kepal ingatan saling mengingatkan. Memberi ruang ketika kaki-kaki itu tetap melangkah pasti. Menuntun bayang-bayang purnama dimana terik matahari esok pagi masih bisa menjadi saksi atas pertanda kenangan, kebangkitan dan kemenangan yang tak kunjung selesai kita susuri sebab-sebab kebangkitannya. Melawan keterpurukan untuk membaca sebagian diri pada kaca-kaca yang tak akan kembali lewat bias ingatan yang menyepi sendiri kemudian. Lalu, di hadapan jendela yang mengembun. Lewat sisa-sisa rintik hujan yang mengembun di kacanya. Aku tak kembali bertutur, merawat atau membiarkan tumbuh...

Mitsaqan Ghalizha

Aku telah menyepakatinya. Begitu pun dengan engkau. Aku hanya ingin kita saling mengikat, membacakan sepilihan tanda tentang kabar-kabar sunyi yang begitu akrab pada perjalanan paling panjang. Dan kita akan pulang menikmati segala risalah indah di ujung perjanjian yang telah kita sepakati bersama di hadapan-Nya. Meskipun kita tahu, hanya aku yang berjanji teguh di hadapan ayahmu, lewat ijab qabul sederhana di pagi ini. Kita telah menyetujuinya. Kembali pada sebagian perjalanan, mengulang sebagian tanda untuk kembali pulang dan melangkah lebih pasti. Mengenang sebagian tanda pada jejak-jejak harapan yang selalu saling silang. Membacakan sebagian ayat tentang hidup dan kebersamaan dalam satu ikatan bersama bukan satu ikatan terpisah. Kita akan kembali pulang mengenang sebagian tanda dan perihal tentang kita yang dipersatukan cinta pada hari penuh doa. Selalu ada jawaban tentang kita sendiri. Mempertanyakan segala kesanggupan tentang jalan-jalan abadi yang memutar segala sunyi. Membiark...

Kita

Kita berkelana membaca masing-masing kisah tentang takdir kita yang dilepas. Atau kita akan kembali menjadi musim-musim gugur yang bercerita tentang jarak kepulangan sunyi untuk kemudian kita lepas bersama sebagai bagian dari apa yang pernah kita tulis di ujung hari ini. Kelak, kita akan saling melepaskan, membaca  tanda-tanda sederhana, lalu mencoba menafsir tentang apa itu rela hingga pada fajar berikutnya kita akan menemukan senyum sendiri pada belukar kita nanti. Kita akan menjadi musim paling karib dengan semesta jarak di ujung jejak kita. Menjadi sendiri pada musim-musim sunyi yang mendamba kehadiran kita. Atau kita akan mulai saling melepaskan, merumuskan segala dan berdiam diri tak karuan di setiap tanda pemberhentian. Dan kita akan mulai bersulang, merayakan setiap pesta kebahagiaan, lalu menutupnya dengan sedikit tangis perpisahan. Sebab kita tak pernah tahu kapan waktu pulang dan pergi kita di ujung perjalanan ini. Kita akan kembali, mengutarakan sebagian sebab. Menjel...

Kelahiranmu, Cinta Untuk Semesta

Ketika Rasulullah berada di hadapan, Ku pandangi pesonanya dari kaki hingga ujung kepala Tahukah kalian apa yang terjelma? Cinta! –Abu Bakar Shiddiq r.a– Makkah telah menyemburatkan cinta ketika cahaya itu turun begitu indah di rahim perempuan agung bernama Aminah. Dia hadir dalam catatan paling bersejarah di sepanjang perjalanan umat manusia. 12 Rabiul Awwal di tahun gajah, seorang perempuan nampak kepayahan ketika ganjil sudah episode yang telah dilewati janin dalam rahimnya. Seorang perempuan yang hidup dalam kesendirian ketika sang lelaki memilih pergi ke haribaan-Nya. Namun, ia tidak pernah menuntun apalagi menggugat segala suratan takdir yang menimpanya. Ia hanya tetap tegar ketika rahimnya terisi seorang bayi suci yang kelak akan mengubah wajah dunia dan mengantarnya pada masa-masa kegemilangan. Ya, hari itu seorang bayi terlahir ke dunia dengan sempurna. Perjuangan perempuan agung bernama Aminah untuk melahirkannya berbalas cinta dari para penghuni langit. Tidak ...

Wanita

Wanita adalah penentu masa depan suatu negeri. Karena wanita adalah sekolah pertama bagi setiap anak manusia Ini adalah kisah sebuah perjalanan. Tentang perempuan-perempuan teguh dan tangguh yang dilupakan sejarah. Ini hanya semacam sebuah permenungan atas masa depan sebuah negeri yang konon berada dalam pundak para perempuannya. Dan ini adalah kisah tentang mereka. Mereka yang namanya tak diabadikan dalam sejarah. Namun kisah pengorbanan, pengabdian serta jejak bakti mereka adalah nyata hanya untuk negerinya sendiri. Mereka ada dalam buku-buku kusam yang tak pernah tersentuh zaman. Mereka hadir dengan cara mereka sendiri. Mereka berjuang dengan kemampuan mereka sendiri. Yang mengubah segala kata keterbatasan dan ketidakmungkinan menjadi sepenggal irama perjalanan yang membuat nama mereka kian kukuh di ujung peradaban. Mereka adalah ibu bagi negeri yang tengah pancaroba. Negeri yang masih bingung mencari nahkoda terbaiknya untuk mengemudikan kapal besar bernama Indonesia. Bagi Malah...

Seseorang Yang Mencintai Senja

/1/ Ini kisah tentang kita, yang mengembara pada beberapa perihal sunyi tentang apa itu waktu. Kisah tentang siapa yang memulai catatan petang hari kembali menyala bagai sumbul cahaya di ujung sana. Merekah dalam sebagian tanda, lalu kita akan pulang dan kembali merenungkan semua penggalan cahaya sederhana itu. Menjelma semburat tak berjarak semenjak lupa menjadi jawaban atas kisah-kisah kita di sepanjang hari. Aku tahu, sedari tadi kau terduduk di depan rak buku kesayanganmu. Membaca dan mengeja setiap hurufnya, lalu engkau pernah mengabarkan bahwa ada yang jatuh semenjak senja mulai kau cinta. Menjanjikan sejumlah perihal ranum tentang kehidupan dan semesta isinya yang dulu pernah lupa engkau rangkai. /2/ Dan kini, aku mengerti mengapa engkau bisa mencintai senja begitu dalam. Seperti katamu, senja adalah sejumlah pertemuan yang tak mungkin kau ingkari kehadirannya. Senja adalah cinta dan sejarah yang memulai semua catatan sederhana kepunyaanmu. Senja adalah tanda paling baik untu...

Laki-Laki Yang Mencintai Phinisi

Barangkali, ini bisa kukabarkan sebagai jelma tentang hikayat lelaki perkasa itu. Hikayat sederhana yang pernah menulis namanya pada lembaran biru tentang laut dan ombak yang menjelma asin tepat di kedua mata ini. Menjelma menjadi uraian cerita tak berkesudahan ketika lepas waktuku kembali pada ranum wajah itu. Mengingat biru laut dan Phinisi yang terus berlayar mengarungi samudera lepas untuk sesekali menengok sanak saudara di kejauhan sana. Barangkali, ini bisa kukabarkan sebagai doa yang tak pernah selesai kurapalkan. Semenjak dingin dan gigil pulang menuju rumah kecil kita. Menautkan sebagian rindu yang tua di perjalanan-perjalanan kita ini, menautkan segalanya hingga kita akan kembali pulang dan mengulang semuanya pada semesta riwayat di ujung kisah tak berkesudahan ini. Aku tahu, cintamu pada Phinisi telah kau tenun semenjak rahim tegak perempuan Bugis itu mengandung dirimu di sembilan episode terbaikmu. Kita akan melepaskan semuanya, membiarkan muara dari puisi kita adalah lau...