[ENERGI LUKA]
Kepada Aus dan Khazraj kita belajar bahwa luka bisa menjadi karat. Menjelma racun yang mengubah kebaikan menjadi keburukan. Seperti halnya Abdullah bin Ubay yang demikian benci kepada baginda Nabi, sebab sang baginda merebut tempatnya untuk menjadi seorang raja. Tumpah ruahlah kebencian dari dalam dadanya. Ia mundur ke belakang berbaris diantara segolongan kaum munafik yang ikut serta dalam perang Uhud. Lelaki itu puas, menyaksikan kaum muslimin kalah perang dari Quraisy. Dan itu terjadi sebab luka di dadanya. Kepada Buya Hamka kita belajar bahwa luka bisa menjadi karya. Menjelma Tafsir Al-Azhar yang melegenda. Meski ia pernah kalah dalam silang sengketa bersama A. Hassan guru sahabatnya Mohammad Natsir. Namun, Hamka tidak pernah menganggap bahwa luka dari kekalahan itu sebagai sesuatu yang mesti dibalas dengan keburukan pula. Ia justru tampil dengan caranya sendiri. Membasuh dan mengobati luka itu dengan belajar tiada henti agar kelak ia mampu menjadi sosok yang bercahaya seperti gur...