F A N A T I K

Perkataan fanatik dipopulerkan dimasa- masa lampau ketika negeri Islam dijajah oleh bangsa Barat pemeluk kristen. Sehingga dalam surat kabar Al- 'Urwatul Wutsqa, yang diterbitkan oleh Sayyid Jalaluddin Al- Afghani dan Syekh Muhammad Abduh di Paris 80 tahun lalu perkataan fanatik ini telah beliau bicarakan juga, pengaruh dari apa- apa yang beliau katakan 80 tahun lalu masih saja kita rasakan sampai sekarang. Penjajah memunculkan kata fanatik karena setelah mereka menancapkan penjajahan di negeri- negeri Islam, orang Islam itu melawan. Mereka masih dan terus melawan padahal dari segi persenjataan, organisasi dan taktik perang dan sebagainya bangsa- bangsa kristen lebih unggul.

Siasat baru. Wajah kebencian kepada muslim ditukar dengan wajah yang menyunggingkan senyum. Bahkan berkata, "kedatangan kami bukan sebagai musuh, tapi hendak membawa peradaban."

Fanatik; Ialah orang yang keras mempertahankan pendirian, benci kepada orang yang berbeda pendirian. Jadi tetap, kaum islam tetap membenci dan siaga dengan rasa curiga.

Merdeka! Tetap saja, usaha menjajah dari segi agama dan kebudayaan tidak berhenti, malah lebih hebat. Orang yang menjajah adalah bangsa sendiri yang telah memeluk agama bangsa yang menjajah dahulu. Maka terdapat kalimat pusaka yang ditinggalkan Belanda untuk melampiaskan nafsu dendam mereka kepada umat Islam, fanatik. Sekarang bertubilah tuduhan "umat Islam Indonesia masih saja fanatik"

Padahal kalau negara kita telah berdasarkan Pancasila, itu sudah cukup Islam, sudah tidak perlu difanatikkan lagi. Bertambah dibeginikan ia, bertambah fanatik.

Sehingga kalau ada orang yang ghirah agamanya berkurang, lalu ia sudah sanggup berdiam diri saja melihat yang munkar menurut ajaran agamanya dan ia pandai menyesuaikan diri, barulah orang ini dapat pujian karena pandai menyesuaikan diri.

Kalau ada Ambtenaar Bumiputera di zaman Belanda, seperti kanjeng bupati di Jawa atau raja- raja di Deli dan teuku- teuku di Aceh, kalau sudah pandai menyesuaikan diri, sudi minum wiski atau air gila dengan tuan- tuan besar Belanda atau di rumah mereka sendiri sudah tersedia minuman keras untuk disuguhkan kepada tamu- tamu tuan besar, terpujilah mereka karena tidak fanatik. Kalau mereka mengirim anak ke sekolah Belanda, tidak lagi ke pondok- pondok tempat mengaji agama, ditepuklah kuduk mereka, tanda mereka mengerti kemajuan, tidak fanatik lagi.

Kalau ada orang bertamu ke rumahmya sewaktu maghrib, lalu yang empunya rumah tidak segera tegak menyuruh sholat dan tamupun diam saja, padahal seruan adzan sudah terdengar, merekapun terpuji sebab sudah tidak fanatik agama lagi. Sebaliknya, kalau tuan tamu rumah bangkit mendengar adzan, lalu mengajak tamunya sholat, si tamu yang tidak pernah sholat menuduh yang empunya rumah fanatik.

Sekarang setelah penjajahan pergi, sisa ajarannya masih mendalam. Salah satu pusaka penjajahan yang masih tinggal dan tertanam dengan suburnya dalam hati orang yang mendapat pendidikan Belanda ialah kalimat fanatik itu.

Kalau kita masih saja menyebut halal- haram dalam negeri ini sekarang, kalau kita masih saja mengatakan yg haq menurut keyakinan kita dan membantah yang batil, kita bisa dituduh fanatik. Malahan ada yang berani berkata, "Jangan sebut- sebut juga hukum- hukum Islam itu disini, negeri ini bukan negeri Islam. Negeri ini negeri Pancasila."

Tuduhan fanatik itu terdapat dimana- mana. Rapat- rapat dinas, instansi dll dimulai pukul lima petang. Sedang sibuk akan menghadapi maghrib, rapat masih diteruskan. Ada orang yang masih ada sisa- sisa agamanya malu bangkit karena takut dituduh fanatik sehingga ada yang menambah satu jamak lagi.

Seperti yang kita ketahui jamak ada dua, taqdim dan ta'khir. Karena takut dituduh fanatik dijamak saja maghrib dan isya' dirumah nanti, jamak taqshir (jamak sia- sia).

Anak- anak Islam Makassar merusak gereja karena ada pendeta menghina Nabi Muhammad. Seluruh dunia kristen dalam negeri dan luar negeri menuduh pemuda Islam itu fanatik. Namun, pendeta yang menghina Nabi Muhammad itu tidak ada yang menuduhnya fanatik. Lalu dendam gereja di Makassar menjalar sampai ke Ambon sampai kedai- kedai orang Islam dibakar, didiamkan orang saja karena menurut mereka itu bukan fanatik.

Sebab itu, orang yang lemah imannya tidak akan berani lagi membuka mulutnya sebab warisan menuduh orang fanatik yang diwariskan penjajah Belanda masih dipegang teguh di negeri kita sekarang. Bila berani ber- amar ma'ruf nahi munkar, akan dituduh fanatik.

Bagaimana sekarang, wahai mereka yang disudut jiwanya masih ada sisa rasa tanggung jawab agama? "Katakanlah, 'Jika kamu memang mencintai Allah, hendaklah ikut aku (Muhammad), niscaya kamu akan dicintai Allah pula." Ayat ini tegas sekali menyebabkan kita fanatik.

Jika kita menentang segala peraturan yang tidak disesuaikan dengan kehendak Allah dan Rasul, pastilah kita akan dituduh fanatik.Padahal, kemegahan dan kemerdekaan negeri ini tidak akan dapat orang merasai nikmat ini sekarang —bersenang- senang mengecap nikmat itu— kalau tidak dimulai oleh orang- orang fanatik.

Tuanku Imam Bonjol melawan Belanda adalah karena fanatik. Teungku Cik di Tiro melawan Belanda adalah karena fanatik. Pangeran Diponegoro melawan Belanda adalah karena fanatik. Semuanya adalah karena fanatik. Yang habis mati tertimbun mayat menegakkan kemerdekaan adalah orang- orang fanatik.

Dikutip dari buku Dari Hati ke Hati buah pena Prof. Dr. Hamka

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita dibalik Jilbab

Wallahu Ya'lamu Wa Antum La Ta'lamun

Zionis Membunuh Jurnalis, Tapi Kebenaran di Palestina Tak Pernah Mati