Menemukan Jarum dalam Jerami

Pernikahahan terburuk adalah seorang pria memilih kecantikannya, dan wanitanya memilih kerena hartannya.bahagia memang tapi cuma sesaat, dan keberkahaan di dalam rumah tangga sulit di dapat.

Ada sebuah kisah nyata antara seorang pemuda pegiat dakwah di kampus yang hendak melamar seorang akhwat yang juga seorang pegiat dakwah di kampus. Sang pemuda dikenal telaten dalam urusan ibadah dan organisasinya. Hingga pada saat prosesi taaruf terjadilah diskusi antara ia dengan bakal calon mertuanya.

“Kata putriku kamu belum bekerja,” Sang ibu mulai membuka dialog soal aktifitas ekonomi calon menantunya. Perempuan berkerudung ini tampak lebih banyak bertanya daripada suaminya.
“Iya Bu, saya baru lulus kuliah” tutur sang pemuda dengan sopan.
“Lalu, nanti anakku kamu beri makan apa?”
“Allah Maha Pemberi Rezeki, Bu” jawab sang pemuda.

Sang ibu terdiam. Ia sepertinya tidak suka dengan jawaban itu. Diaog-dialog berikutnya terasa agak berbeda. Suaminya yang giliran bertanya pada Fajar. Sementara sang ibu lebih banyak diam.

Keesokan harinya jawaban itu keluar. sang pemuda ditolak. Betapa kagetnya ikhwan itu. Ia merasa sudah tampil sopan di depan calon mertuanya. Ia juga merasa menjawab seluruh pertanyaan dengan baik. Mengapa dirinya ditolak? Ustadznya juga tidak mengetahui alasan pasti.

Setelah berlalu bulan demi bulan, barulah sang pemuda diberitahu. Jawabannya “Allah Maha Pemberi Rezeki” ternyata menyinggung calon ibu mertua.
“Aku ini muballigh, tentu aku paham bahwa Allah Maha Pemberi Rezeki. Kalau itu aku nggak perlu tanya lagi. Yang aku tanyakan itu kejelasan bagaimana nanti anakku mendapatkan nafkah, bagaimana ekonomi keluarga anakku nanti. Bukan soal siapa yang memberi rezeki,” kata perempuan yang ternyata muballigh di sebuah ormas Islam itu seperti ditirukan orang dekatnya.
===================
Demikian kisah tersebut berakhir, di web dimana kisah ini diceritakan, seakan-akan sang ibu disudutkan karena Jawaban "Allah Maha Pemberi Rezeki" sehingga diberi judul "Lamaran Ditolak Gara-Gara Menjawab “Allah Maha Pemberi Rezeki”"

Dalam kisah tersebut saya sendiri tidak terlalu melihat kesalahan dari sang Ibu, yang dalam hal ini sebagai orang tua dari putri yang ingin dilamar. Tidak ada satupun orang tua yang tidak menginginkan anak gadisnya bahagia dan berada di tangan yang tepat dan juga bertanggung jawab.

Sang pemuda ditanya oleh bakal calon ibu mertuanya pertanyaan standar " Kamu belum bekerja, mau kasih makan apa anak saya?"

Dan dijawab oleh sang pemuda dengan perkataan "Allah Maha Pemberi Rezeki"

Sungguh kalimat itu sangat benar, namun jawaban yang diinginkan oleh sang calon ibu mertua adalah bentuk ikhtiar (usaha yang dilakukan) dari sang bakal calon menantu. Sang ibu (bakal calon Ibu Mertua) tentu juga paham bahwa Allah Maha Pemberi Rezeki (terlihat dari perkataan beliau di akhir kisah), namun yang dia inginkan jalan/usaha/cara apa yang telah/tengah/akan dilakukan untuk menggapai rezeki tersebut.

Jawaban dari sang bakal calon menantu itu menunjukkan bentuk tawakkal, namun sebelum tawakkal ada stage ikhtiar (usaha) dulu yang harus dilalui. Jangan langsung lompat ke tahap tawakkal tanpa mempedulikan tahap ikhtiar. Itu namanya asal nembak. Nah, Do'anya juga jangan sampai kelupaan yah.

Ini pelajaran bahwa untuk menyegerahkan menikah tidak hanya bermodalkan semangat saja, namun butuh ilmu, dan usaha tuk merealisasikannya. Selain itu bagaimana berkomunikasi yang baik juga cukup berperan loh.

Tunjukkan bahwa engkau memang bisa bertanggung jawab, maka sayup-sayup indah jawaban terbaik akan menghampirimu, insya Allah.

Tulisan dari Chaerul Ibn Abd Al-Wahab

Ibarat pepatah, “seperti mencari jarum dalam jerami.”, Kita tentu tahu bahwa Allaah Maha Mengetahui dimana letaknya, akan tetapi untuk menemukannya tentulah kita butuh usaha dan berdo’a.

Tidak bisa hanya berusaha saja dan melupakan Dia Yang Maha Membuka Kemudahan, atau, berdo’a saja mengharapkan sebuah keajaiban. Ini.. sebuah keseimbangan : )

Ketika ibuku bertanya;
“Mau bagaimana kamu menemukan jarum dalam jerami itu?”
Jawablah;
“Aku akan mengajak anak ibu bersama-sama mencarinya atas Ridho Allaah. Sebab, berdua selalu lebih baik dari pada sendirian ketika kesiapan sudah tertanam. In syaa Allaah..”

Eh,
Ini,
sebuah analogi, ya? :’D
Hehe *senyum

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita dibalik Jilbab

Wallahu Ya'lamu Wa Antum La Ta'lamun

Zionis Membunuh Jurnalis, Tapi Kebenaran di Palestina Tak Pernah Mati